Kamis, 4 September 2025, santri putri kelas XII Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMKS Plus Nurul Hakim Kediri kembali menggelar kegiatan Teaching Factory (TEFA) sebagai bentuk pembelajaran berbasis industri kreatif. Sejak pagi, suasana ruang produksi sudah terasa hidup. Para santri berkumpul mengikuti briefing pagi yang dipimpin oleh pembimbing. Dalam sesi ini, mereka menerima arahan, pembagian jobdesk, serta target produksi yang harus dicapai hari itu. Briefing dilakukan dengan gaya profesional layaknya morning meeting di perusahaan kreatif, sehingga membiasakan santri untuk terbiasa dengan ritme kerja industri.
Setelah pengarahan, para santri langsung terjun ke unit kerja masing-masing. Pesanan produk yang masuk hari itu cukup beragam: nametag, cetak foto, notebook custom, dan mug custom. Untuk memastikan pekerjaan berjalan efektif, pembagian peran dilakukan secara sistematis. Ada yang bertugas mendesain ulang file pesanan, ada yang mengatur tata letak dan ukuran cetak, ada yang fokus pada eksekusi sablon atau cetak, sementara yang lain memastikan hasil akhir melalui quality control (QC). Sistem ini membuat para santri terbiasa bekerja dengan standar industri: rapi, terstruktur, dan tepat waktu.
Proses produksi tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga menuntut sikap profesional. Ketelitian dalam mengatur warna desain, konsistensi dalam hasil cetakan, hingga kerapihan finishing menjadi poin yang sangat diperhatikan. Bahkan, kesalahan kecil seperti pergeseran desain atau ketidaksesuaian warna menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas hasil kerja. Dengan begitu, santri belajar bahwa dalam industri kreatif, detail adalah segalanya.
Suasana kerja di ruang produksi semakin dinamis ketika setiap kelompok saling berkoordinasi. Santri yang sudah menyelesaikan bagiannya tidak ragu membantu kelompok lain agar semua pesanan selesai sesuai target. Budaya kerja tim, saling mendukung, dan komunikasi aktif menjadi bagian penting yang ditanamkan melalui TEFA. Meskipun dikerjakan di lingkungan sekolah, atmosfer kerja yang terbentuk benar-benar menyerupai bengkel atau studio kreatif profesional.
Di sela-sela kegiatan, pembimbing dan kepala sekolah hadir memantau jalannya produksi. Mereka berperan sebagai supervisor lapangan yang memberikan masukan langsung, mengingatkan tentang pentingnya konsistensi mutu, sekaligus memberi apresiasi atas kerja keras yang ditunjukkan santri. Kehadiran pimpinan sekolah membuat suasana semakin serius, seolah-olah para santri sedang menjalani hari kerja di perusahaan nyata dengan supervisi langsung dari atasan.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan refleksi kerja. Setiap kelompok memaparkan hasil produksi, tantangan yang mereka hadapi, serta solusi yang berhasil mereka terapkan. Refleksi ini penting untuk menumbuhkan budaya continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan, yang menjadi salah satu kunci sukses dalam industri kreatif.
Alhamdulillah, semua pesanan dapat diselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan sesuai standar kualitas. Lebih dari sekadar menyelesaikan tugas, santri DKV Putri belajar bahwa keberhasilan dalam industri bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal sikap kerja: disiplin, teliti, kreatif, komunikatif, dan mampu bekerja dalam tim. Melalui TEFA, mereka tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga menghayati bagaimana membangun budaya kerja industri yang sesungguhnya.
