Info Sekolah
Jumat, 06 Nov 2026
  • "DUNIA OKE AKHIRAT YES" || RELIGIUS • SANTUN • CAKAP • MANDIRI
  • "DUNIA OKE AKHIRAT YES" || RELIGIUS • SANTUN • CAKAP • MANDIRI
10 Agustus 2025

Syuruq yang Menggantung di Ujung Kenangan

Ming, 10 Agustus 2025 Dibaca 198x Berita
  1. Pagi ini datang seperti bisikan yang tak ingin membangunkan siapa pun. Udara dingin masih menyelip di sela daun-daun, menggantung di antara keraguan, menjadi embun, atau hilang bersama cahaya pucat yang merayap dari timur. Lapangan ini berdiri tenang, memegang napasnya sendiri, seakan tahu hari ini bukan sekadar hari. Pohon-pohon di tepinya seperti para penjaga yang tidak berseragam, tapi telah lama bersumpah setia.
Ribuan santri duduk bersila. Seakan mereka adalah halaman-halaman kosong, siap ditulisi sejarah. Mata-mata muda itu belum mengenal perihnya perjalanan para pendahulu, tetapi mereka duduk di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan sebentar lagi—mendengar kata-kata yang akan menjembatani mereka dengan masa lalu yang hidup di antara doa-doa.
Di atas panggung sederhana, Abuna TGH. Muharrar Mahfuz duduk bersila. Suaranya, ketika mengalun, bukan sekadar memecah udara pagi, tetapi mengalir di antara hati yang mendengar, mengetuk pintu kenangan yang lama tertutup.
“Saya mengajak kita semua pada kesempatan ini untuk memperbanyak syukur…”
Lalu, satu per satu, beliau menyulam makna syukur itu: kepada Allah atas nikmat sehat, sempat, iman, dan Islam. Kepada para mu’assis—pendiri yang menanam akar di tanah yang dulu hanyalah hening dan ilalang.
Kepada para mujahid—pejuang yang menahan nyala dari padam, bahkan ketika angin datang dari segala arah. Kepada para anshor—penolong yang menjaga pintu pondok ini tetap terbuka, meski nama mereka jarang disebut di mimbar.
> “Jasad mereka memang terkubur, tapi jasa mereka terus terulur,”
lalu beliau mengutip Abu Muhammad An Nahwi:
أخو العلم حي خالد بعد موته وأوصاله تحت التراب رميم
Ahli ilmu hidup abadi setelah mati, meski tulang belulangnya terkubur menjadi serpihan tak berarti.
Pidato itu mengalir seperti air yang tidak tergesa. Di dalamnya ada lima petunjuk tentang syukur:
  1. Tunduk kepada Allah (خضوع الشاكر للمشكور)—dan kepada manusia, dengan memberi hormat.
  2. Cinta kepada Allah (حب الشاكر للمشكور)—dan kepada manusia, dengan kasih yang tumbuh tanpa batas.
  3. Banyak memuji Allah (ثناء الشاكر للمشكور)—dan kepada manusia, dengan menyebut kebaikan mereka tanpa henti.
  4. Mengakui nikmat Allah (الاعتراف بنعمه)—dan kepada manusia, dengan mengingat peluh dan jejak langkah mereka.
  5. Tidak menggunakan nikmat untuk yang dibenci (أن لا يستعملها في مكروه)—dan kepada manusia, dengan memastikan kebaikan yang mereka mulai tidak berubah arah.
Santri Putra dan Putri Yayasan Nurul Hakim Lombok
Santri-santri itu mendengarkan, sebagian menunduk, sebagian menatap tanah, seolah mencari jejak yang pernah menginjaknya puluhan tahun lalu.
Di kepala mereka mungkin hadir wajah pendiri pondok—sorban lusuh, senyum tenang di beranda kayu. Atau bunyi cangkul yang memecah tanah, atau aroma kayu basah dari pintu asrama pertama yang kini telah menjadi besi dingin.
Angin melintas perlahan, seperti membawa kabar dari orang-orang yang sudah pulang. Langit di kejauhan masih pucat, seakan ia pun berduka, tetapi tetap menjaga jarak agar tidak terlihat menangis.
Dan di ujung pidato, beliau menutup dengan cahaya yang tipis tetapi hangat:
“Semoga Allah memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya, kepada ulama, dan kepada guru-guru kita, dengan sebaik-baiknya, dalam keadaan bagaimanapun. Mari kita melangkah bersama dalam kebaikan, kebermanfaatan, dan ketaqwaan.”
Suara itu berhenti. Tetapi gema tetap tinggal—di udara, di dada, di tanah yang mereka duduki.
Lama setelah barisan bubar, gema itu masih berputar di kepala, menempel di hati. Karena sejarah, ternyata, bukanlah cerita yang selesai ketika diceritakan. Ia adalah detak pelan, yang terus mengalir di tubuh siapa pun yang pernah mencintai pondok ini.
Pagi ini, di bawah langit yang menahan cahaya, semua orang tahu: mereka sedang melakukan ziarah.
Bukan ziarah kaki, tapi ziarah napas—yang menyamakan iramanya dengan napas mereka yang telah lebih dulu berpulang []
_________________________________
(Menyadur dari Faidah Tulisan Ustadz Abdul Aziz Faradhi dengan perubahan makna dan bahasa oleh Ammar Muzaffar Muchtar)